Skip to content

News Center 31

Berita dan pusat informasi Online No 31

Menu
  • Disclaimer
  • Kirim Artikel
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Menu
Ketika Anak Takut Bertanya Ada Apa di Balik Diamnya Siswa di Kelas

Ketika Anak Takut Bertanya: Ada Apa di Balik Diamnya Siswa di Kelas?

Posted on October 21, 2026 by admin web

Bertanya memang bukan sesuatu yang wajib dilakukan setiap saat. Namun, ketika kita benar-benar tidak memahami sesuatu, bertanya sering kali menjadi jalan untuk menemukan jawaban. Sayangnya, keinginan sederhana ini tidak selalu mudah diwujudkan. Ada kalanya seseorang sudah memiliki pertanyaan di dalam pikirannya, bahkan sudah menyusun kalimat yang ingin disampaikan, tetapi ketika kesempatan itu datang, semuanya seolah berhenti di tenggorokan. Rasa malu, takut salah, dan kurangnya kepercayaan diri perlahan mengalahkan keberanian untuk berbicara. Pada akhirnya, diam terasa lebih mudah daripada mencoba.

Hal serupa dapat terjadi pada siswa di dalam kelas. Ketika guru menjelaskan materi yang belum mereka pahami, sebagian siswa memilih untuk tidak bertanya. Bukan selalu karena mereka tidak memiliki rasa ingin tahu, melainkan karena ada pertimbangan lain yang muncul di dalam pikiran mereka. Mereka mungkin merasa mampu mencari jawabannya sendiri, mencoba memahami materi tanpa bantuan, atau memilih mendengarkan pertanyaan teman-temannya. Bagi sebagian anak, bertanya bahkan menjadi pilihan terakhir karena mereka lebih dahulu berhadapan dengan rasa malu dan takut akan penilaian orang lain.

Jika diamati lebih jauh, kebiasaan ini tidak selalu muncul karena satu alasan yang sama. Ada anak yang memang terbiasa menyelesaikan persoalannya sendiri, ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengungkapkan pikirannya, dan ada pula yang sebenarnya ingin berbicara, tetapi kesulitan menemukan keberanian. Dalam beberapa keadaan, diam menjadi bagian dari karakter atau cara anak menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Karena itu, siswa yang diam tidak seharusnya langsung dianggap pasif, tidak peduli, atau tidak memahami pelajaran.

Persoalannya menjadi lebih menarik ketika kita menyadari bahwa keinginan untuk berbicara dan kemampuan untuk mengungkapkannya merupakan dua hal yang berbeda. Seorang siswa mungkin ingin mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat. Kalimatnya mungkin sudah tersusun di dalam kepala, tetapi keraguan membuatnya memilih untuk tetap mendengarkan. Ia melihat teman-temannya berbicara, menyampaikan gagasan, dan mendapatkan tanggapan, sementara dirinya masih mempertimbangkan apakah pendapatnya layak disampaikan. Pada akhirnya, kesempatan berlalu dan pertanyaan itu kembali tersimpan, seolah tidak pernah ada.

Pengalaman semacam ini mengajak kita melihat perilaku diam dari sudut pandang yang berbeda. Tidak semua anak yang diam berarti tidak memiliki gagasan. Tidak semua anak yang memilih belajar sendiri berarti tidak membutuhkan bantuan. Ada kemungkinan mereka memang nyaman dengan caranya sendiri, tetapi ada pula kemungkinan mereka sedang berusaha mengatasi keraguan yang tidak terlihat oleh orang lain. Sayangnya, apa yang tidak terucap sering kali lebih sulit dikenali daripada apa yang disampaikan secara langsung.

Dari sinilah muncul pertanyaan penting bagi dunia pendidikan: apakah selama ini kita sudah memberikan ruang yang cukup aman bagi siswa untuk menyampaikan ketidakpahaman dan pendapatnya? Sebab, keberanian bertanya tidak hanya berkaitan dengan kemauan anak, tetapi juga dengan bagaimana lingkungan merespons suara mereka. Kesempatan untuk berbicara akan terasa sia-sia jika anak masih khawatir bahwa pertanyaannya akan dianggap sepele atau kesalahannya menjadi bahan tertawaan.

Dalam proses pembelajaran, guru tentu tidak dapat mengetahui seluruh kesulitan siswa hanya dari apa yang terlihat. Anak yang mengangguk saat penjelasan berlangsung belum tentu benar-benar memahami materi. Begitu pula siswa yang menyelesaikan tugas tepat waktu belum tentu mengerti setiap langkah yang dikerjakannya. Ada kalanya mereka mengikuti alur pembelajaran sambil menyimpan kebingungan yang tidak sempat, atau tidak berani, disampaikan. Karena itu, kelas yang tenang tidak selalu menjadi tanda bahwa pembelajaran telah berjalan dengan baik.

Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata bagaimana membuat siswa lebih berani berbicara, melainkan juga bagaimana membuat mereka merasa bahwa suaranya layak didengar. Anak tidak bisa terus-menerus diminta aktif apabila setiap kesempatan berbicara justru terasa seperti ujian keberanian. Guru perlu membangun suasana yang menghargai pertanyaan, menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, dan tidak mempermalukan siswa hanya karena belum memahami sesuatu.

Upaya tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Siswa bisa diberi kesempatan menuliskan pertanyaan sebelum menyampaikannya, berdiskusi dengan teman sebangku, atau mengungkapkan pendapat dalam kelompok kecil. Cara ini memberi ruang bagi anak yang belum terbiasa berbicara di depan banyak orang untuk mulai mencoba. Ketika mereka akhirnya berani bertanya, tanggapan yang baik dapat menjadi dorongan untuk kembali mengangkat tangan pada kesempatan berikutnya. Keberanian tidak selalu tumbuh dalam satu waktu; terkadang, ia berawal dari satu pertanyaan kecil yang disambut dengan baik.

Pada akhirnya, tidak semua anak yang diam sedang menyembunyikan ketakutan. Ada yang sedang berpikir, ada yang memilih mandiri, dan ada yang masih mencari keberanian untuk mengungkapkan isi pikirannya. Tugas pendidikan bukanlah memaksa setiap anak menjadi sama-sama lantang, melainkan memahami kebutuhan mereka dan memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar dengan caranya sendiri.

Mungkin, yang perlu kita ubah bukan hanya keberanian anak untuk bertanya, melainkan juga cara kita menyambut pertanyaan mereka. Sebab, di dalam kelas, diam memang tidak selalu berarti tidak tahu. Namun, jangan sampai seorang anak terus memilih diam hanya karena ia tidak yakin akan didengarkan. Terkadang, langkah pertama menuju pemahaman bukanlah menemukan jawaban yang benar, melainkan merasa cukup aman untuk berkata, “Saya belum mengerti.”

Penulis/Kontributor : Cahya Nariyah Azizah, mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 

Views: 3

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Recent Posts

  • Ketika Anak Takut Bertanya: Ada Apa di Balik Diamnya Siswa di Kelas?
  • Mini Bridge Challenge Ajak Siswa SMKN 1 Rangas Belajar Fisika Lewat Proyek Jembatan Mini
  • Mahasiswa KKN UIN Bandung Edukasi Siswa SDN Sukajaya tentang Bahaya Bullying
  • Watu Payung Yogyakarta, Gardu Pandang dengan Panorama Pegunungan Sewu dan Sungai Oya
  • Harga Bawang Putih Naik, Ketahui Penyebab dan Upaya Meningkatkan Produksi Lokal

Categories

  • Artikel
  • Berita
  • Hiburan
  • Pendidikan
  • Pengertian
  • Produk
  • Teknologi
  • Wisata

Link

  • Sedayu Online
  • UMBY
  • JogjaOnline
©2026 News Center 31 | Built using WordPress and Responsive Blogily theme by Superb