Skip to content

News Center 31

Berita dan pusat informasi Online No 31

Menu
  • Disclaimer
  • Kirim Artikel
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Menu
Mini Bridge Challenge Hadirkan Pembelajaran Fisika Kontekstual bagi Siswa SMKN 1 Rangas

Mini Bridge Challenge Ajak Siswa SMKN 1 Rangas Belajar Fisika Lewat Proyek Jembatan Mini

Posted on October 8, 2026October 6, 2026 by admin web

MAMUJU – Belajar fisika tidak harus selalu berkutat dengan rumus dan teori. Hal tersebut ditunjukkan melalui kegiatan Mini Bridge Challenge yang digelar dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) bersama siswa SMKN 1 Rangas, Mamuju, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–10.00 WITA tersebut merupakan bagian dari Pengabdian Kemitraan DIPA Unsulbar 2026 dengan judul “Pendampingan Fisika Kontekstual Melalui Proyek Jembatan Mini dalam Membentuk Persepsi Positif terhadap Fisika Siswa SMKN 1 Rangas”.

Program tersebut juga dikemas dalam kegiatan Program Studi Pendidikan Fisika bertajuk “Fisika Berdampak Jilid 2”. Melalui proyek jembatan mini, siswa diajak melihat secara langsung bagaimana konsep fisika diterapkan dalam kehidupan nyata, khususnya pada bidang konstruksi.

Kegiatan melibatkan 21 siswa kelas XI Konsentrasi Keahlian Konstruksi Jalan dan Jembatan SMKN 1 Rangas. Pemilihan peserta disesuaikan dengan tema kegiatan karena konsep pembuatan jembatan memiliki keterkaitan langsung dengan bidang keahlian yang sedang mereka pelajari.

Dalam proyek tersebut, siswa belajar menghubungkan konsep seperti gaya, keseimbangan, distribusi beban, dan kekuatan struktur dengan proses merancang dan membangun sebuah jembatan mini.

Siswa Belajar Fisika Lewat Proyek

Kegiatan diawali dengan sesi pengenalan yang dipandu Wita Fardilla sebagai pembawa acara. Selanjutnya, Ketua Tim Pelaksana, Nurlina, S.Pd., M.Si., memberikan pengantar mengenai tujuan dan konsep pelaksanaan Mini Bridge Challenge.

Nurlina menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami fisika melalui teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan konsep fisika.

“Melalui kegiatan Mini Bridge Challenge ini, kami ingin menunjukkan kepada siswa bahwa fisika tidak hanya berkaitan dengan rumus dan perhitungan, tetapi juga hadir secara nyata dalam bidang keahlian yang mereka pelajari, khususnya konstruksi jalan dan jembatan,” ujar Nurlina.

Setelah sesi pengantar, mahasiswa Muhammad Sahrul memberikan penjelasan mengenai teknis pelaksanaan proyek. Siswa mendapatkan informasi tentang ketentuan, spesifikasi, alat dan bahan, serta tahapan pengerjaan jembatan mini.

Selanjutnya, 21 siswa dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok didampingi mahasiswa tim pelaksana, yakni Nurul Aulia Hasri, Fatmawati, Perdi, Winda, dan Kristina.

Mahasiswa pendamping memberikan arahan selama proses berlangsung, sementara siswa menjadi pihak yang aktif dalam merancang dan membangun jembatan.

Setiap kelompok diberikan waktu yang telah ditentukan untuk menyelesaikan proyek menggunakan alat dan bahan yang telah disiapkan. Mereka harus mempertimbangkan desain, kekuatan struktur, serta kemampuan jembatan dalam menahan beban.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa terlihat berdiskusi, membagi tugas, menyusun strategi, hingga memperbaiki desain jembatan agar dapat menghasilkan struktur yang kuat.

Jembatan Mini Diuji dengan Beban

Setelah seluruh kelompok menyelesaikan proyek, kegiatan dilanjutkan dengan pengujian kekuatan jembatan mini.

Pengujian dilakukan oleh dua anggota tim penguji, yaitu Mutmainnah Badu dan Aulia Nadratun Naim. Satu per satu jembatan diuji untuk mengetahui kemampuan masing-masing struktur dalam menahan beban.

Tahap pengujian menjadi salah satu bagian yang paling menarik bagi siswa. Mereka dapat melihat secara langsung apakah rancangan yang dibuat bersama mampu bertahan ketika mendapatkan beban.

Sebagian besar kelompok berhasil menghasilkan jembatan mini yang cukup kokoh. Dari hasil pengujian tersebut, tim kemudian menentukan kelompok yang berhasil membuat jembatan dengan daya tahan terbesar.

Kompetisi tersebut menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, sekaligus semangat berkompetisi secara sehat di kalangan siswa.

Salah seorang siswa mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda dalam mempelajari fisika.

“Menurut saya kegiatan ini seru karena kami tidak cuma belajar teori, tapi langsung praktik membuat jembatan. Jadi kami bisa tahu kenapa jembatan bisa kuat atau malah tidak kuat saat diberi beban,” ungkapnya.

Dorong Persepsi Positif terhadap Fisika

Sebagai bentuk apresiasi, tim pelaksana memberikan reward kepada siswa yang telah mengikuti kegiatan. Setelah itu, peserta diminta mengisi kuesioner sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program.

Respons siswa menunjukkan antusiasme terhadap pembelajaran fisika yang dikemas melalui aktivitas proyek. Proses mulai dari merancang, membangun hingga menguji jembatan membuat siswa terlibat secara langsung dalam pembelajaran.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Project-Based Learning (PjBL) yang menempatkan siswa sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi ditantang menghasilkan sebuah produk dan menguji hasilnya.

Melalui Mini Bridge Challenge, siswa Kelas XI Konsentrasi Keahlian Konstruksi Jalan dan Jembatan SMKN 1 Rangas mendapatkan kesempatan untuk melihat hubungan antara materi fisika dengan bidang vokasional yang mereka tekuni.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa fisika bukan sekadar kumpulan rumus dan perhitungan. Konsep fisika dapat ditemukan dalam berbagai persoalan teknis, termasuk ketika merancang sebuah struktur jembatan.

Wujud Kolaborasi Unsulbar dan SMKN 1 Rangas

Kegiatan Mini Bridge Challenge juga menjadi ruang kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan siswa dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.

Dosen berperan dalam merancang kegiatan, memberikan penguatan konsep, serta mengarahkan pelaksanaan program. Sementara itu, mahasiswa terlibat sebagai pendamping yang membantu siswa selama proses pengerjaan proyek.

Di sisi lain, siswa menjadi peserta aktif yang merancang, membangun, dan menguji jembatan mini mereka.

Kolaborasi tersebut menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif sekaligus memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan.

Bagi siswa, kegiatan ini diharapkan dapat membantu membangun persepsi yang lebih positif terhadap fisika sekaligus menunjukkan keterkaitan antara ilmu yang dipelajari di sekolah dengan dunia kerja dan bidang keahlian mereka.

Melalui program “Fisika Berdampak Jilid 2”, Program Studi Pendidikan Fisika Unsulbar berupaya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, aplikatif, dan dekat dengan kehidupan siswa.

Penulis: Nurlina, S.Pd., M.Si.
Instansi: Universitas Sulawesi Barat

Post Views: 8

Continue Reading

Next Post:
Mahasiswa KKN UIN Bandung Edukasi Siswa SDN Sukajaya tentang Bahaya Bullying

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Recent Posts

  • Mini Bridge Challenge Ajak Siswa SMKN 1 Rangas Belajar Fisika Lewat Proyek Jembatan Mini
  • Mahasiswa KKN UIN Bandung Edukasi Siswa SDN Sukajaya tentang Bahaya Bullying
  • Watu Payung Yogyakarta, Gardu Pandang dengan Panorama Pegunungan Sewu dan Sungai Oya
  • Harga Bawang Putih Naik, Ketahui Penyebab dan Upaya Meningkatkan Produksi Lokal
  • Bekali Mahasiswa Hadapi PPL, FKIP UMBY Perkuat Kesiapan Mental dan Kompetensi Praktis

Categories

  • Artikel
  • Berita
  • Hiburan
  • Pendidikan
  • Pengertian
  • Produk
  • Teknologi
  • Wisata

Link

  • Sedayu Online
  • UMBY
  • JogjaOnline
©2026 News Center 31 | Built using WordPress and Responsive Blogily theme by Superb